« August 2005 | Main | October 2005 »

September 20, 2005

termasuk saya...

http://kompas.com/kompas-cetak/0509/17/opini/2055252.htm

BANGSA YANG TELEDOR
Oleh: Sarlito Wirawan Sarwono

Saya sangat sering terbang (istilah gagahnya: frequent flyer). Bisa beberapa kali sebulan, di dalam maupun ke luar negeri. Karena itu,  jatuhnya Mandala di Medan baru-baru ini, di tengah hari bolong, di tengah-tengah pasar, sempat membuat saya terenyak. Apalagi kejadian jatuhnya pesawat terbang bukan baru sekali ini (ingat jatuhnya pesawat Lion Air di Solo? Dan masih banyak lagi, lho!).

Tetapi, saya bukan penerbang atau teknisi pesawat udara. Karena itu, pasti saya tidak berkompeten untuk bicara tentang sebab-musababnya pesawat jatuh. Namun, dengan akal sehat, saya tahu bahwa pesawat terbang adalah sarana angkutan dengan teknologi sangat tinggi yang harus bebas kesalahan (zerro error). Kesalahan sedikit saja, akibatnya bisa fatal.

Padahal, sistem penerbangan melibatkan ratusan pembuat keputusan dan ribuan pelaksana, mulai dari penerbang, awak kabin, petugas menara, petugas bandara, sampai dengan manajemen dan tukang pembersih pesawat.  Semuanya harus bekerja cepat, cermat, dan sesuai dengan prosedur baku di bawah sebuah komando raksasa abstrak yang bernama ”sistem” itu sendiri.

Di sisi lain, sebagai frequent flyer justru saya sering melihat keteledoran di sekitar saya. Penumpang lewat calo, sehingga namanya tidak cocok dengan manifest, misalnya. Ini bukan lagi keteledoran, melainkan sudah kecerobohan yang luar biasa. Ketika ada kecelakaan, penumpang yang bersangkutan tidak mungkin mendapat santunan apa pun. Tetapi, nekat saja orang melakukannya.

Atau kursi yang tidak bisa disandarkan (macet) atau lampu baca yang tidak menyala. Hal-hal kecil ini jelas mencerminkan ketidak-telitian teknisi yang merawat kabin. Atau manajemen yang tidak membelikan suku cadang. Kalau di kabin teknisi bisa tidak teliti, tidak tertutup kemungkinan di mesin pun teknisi dan manajemen tidak bekerja teliti, atau teledor.

Apalagi tiket pesawat dijual di bawah harga tiket kereta api untuk jurusan yang sama. Akal sehat saya yang awam dalam teknologi dan manajemen penerbangan, menyimpulkan pasti ada keteledoran di sini. Kalau harga tiket makin turun, sementara harga BBM justru makin naik, dan begitu juga biaya perawatan, pelatihan dan cek rating awak pesawat, over-head cost, dan sebagainya, sudah pasti ada pengurangan kualitas atau kuantitas dalam aspek tertentu (termasuk unsur mesin dan awak), agar harga tiket
tetap dapat lebih murah dari kereta api atau kapal laut. Pasti ada keteledoran di sini.

Teledor di mana-mana
Melihat banyaknya kecelakaan dalam sektor perhubungan, rasanya keteledoran bukan monopoli dunia penerbangan. Sudah jauh lebih dulu kita dengar berita kapal tenggelam dengan puluhan korban nyawa, karena kapal yang sudah tua, tidak terawat, atau ditumpangi orang melebihi batas. Teledor, kan? Atau bus ditabrak kereta api karena memaksakan melintas walau kereta api sudah dekat (teledor lagi!), atau karena penjaga pintu kereta api lupa menutup pintu atau petugas di stasiun lupa menyalakan lampu
sehingga terjadi tabrakan kereta api (teledor lagi). Atau anak-anak mati di atap kereta api karena kepalanya terbentur talang air. Semua karena teledor.

Contoh lain di luar sektor perhubungan juga sangat banyak: sampah dibuang sembarangan, air tidak dibersihkan (tipus, demam berdarah), raja dangdut diberi gelar profesor (pembodohan), berhubungan seks dengan pelacur malas pakai kondom (penyakit kelamin, HIV/AIDS), curi listrik sembarangan, gang-gang pemadam kebakaran (bahasa Belandanya: brand gang) dipadati bangunan (kebakaran, mobil pemadam tidak bisa masuk), hutan-hutan ditebangi (banjir, longsor, banyak orang mati). Dan seterusnya.

Kesimpulannya: pantaslah kalau bangsa Indonesia saya sebut sebagai bangsa yang teledor! Jatuhnya Mandala, hanya puncak gunung es saja dari keteledoran yang sudah meliputi seluruh bangsa ini. Ditambah dengan mental buruk lainnya (seperti KKN), keteledoran akan mampu meruntuhkan sendi-sendi bangsa. Jadi, musuh bangsa Indonesia ternyata bukan kapitalisme Amerika, tenaga kerja murah RRC, MTV, atau terorisme jihad, melainkan kecerobohan mental kita sendiri.

Presiden mana yang akan bisa membetulkan sikap mental teledor itu?  Susilo Bambang Yudhoyono-kah? Bukan. Sebab, tidak akan ada presiden yang bisa. Yang harus melakukannya adalah kita semua, seluruh bangsa ini, dengan mengubah sikap mental teledor menjadi sikap mental disiplin dan taat asas.

Sarlito W Sarwono Guru Besar Psikologi UI

September 19, 2005

misunderstanding...

I just realize lately how suck misunderstanding is...I totally realize that it is an unavoidable event in life, that everybody must have experienced at least one...

Tapi beneran deh, dimisunderstandingin itu nyebelin !!!

Kadangan gue mikir, mungkin ini salah satu penyebab orang nggak mau keluar dari comfort zonenya ya...apapun itu - lingkungan keluarga, kerja, peer groups, whatever...once elo udah nyaman sama kondisi dan lingkungan lo, dengan lingkungan yang udah tau elo gimana, mungkin elo bisa lebih menjadi diri elo sendiri, nggak perlu lagi ada pembuktian-pembuktian diri, yang prosesnya kadangan laaammmmaaa dan panjaaaaangggg, seperti coki-coki...

Belum lagi dengan adanya misunderstanding2 itu tadi...maksud elo apa, ditanggepinnya apa...Dan gue kan ekstrim ya, maksudnya gini, dengan orang2 yang gue merasa amat sangat nyaman, gue bisa ngomel seenak udel gue, sampe 'menyiksa' (sorry kyh, bud.. ;)).  Tapi kalo sama orang2 yang gue nggak gitu deket, gue suka males gitu, ngeralat apa yang mereka kira tentang gue, ngeralat kalo maksud gue itu bukan gini lho...tapi gitu...yang gitu-gitu deh...gue udah males ndiri gitu, jadinya cuman ya kapok aja gitu, better nggak comment next time hehehe ;)  padahal alangkah ruginya mereka yang kehilangan komentar-komentar saya... hehehe...

Contohnya postingan blog yang sebelom ini nih...yang soal kerjaan...Gue yakin kalo yang baca tulisan gue itu temen-temen gue yang udah lama kenal gue, mereka pasti nggak bakalan mikir macem-macem...

Tapi buat yang belom begitu mengenal saya, would you please dont misunderstand what I was writing...?  Bukannya saya nggak bersyukur dengan kerjaan saya yang sekarang ini...Kesannya nanti saya jadi belagu bangeut...hari genneee bukannya bersyukur masih punya kerjaan ya?  Tapi nggak perlu juga kan saya gembar-gembor betapa bersyukurnya saya dengan kerjaan saya ini.  Ini salah satu bukti lagi kalo Tuhan emang baiiiiikkkkk bangeuuuuttt sama saya (GREAT JOB, HEI YOU UP THERE !!! ;))...makasih ya ya Allah...cuman ya itu tadi, someday when you're going through tough days, you need comfort, right?  Dan saya cuman mau sharing, salah satu sumber comfort saya (selain sumber-sumber yang lain hehehe)...

Do you know what's weird?  When I opened my friendster page today, I glimpse my horoscope.  It says 'Aren't you sick and tired of, well, feeling so sick and tired? If you're fed up with a situation, it's time to take steps so this circumstance or cycle of feelings doesn't keep cropping up in your life over and over again. The key to breaking this never-ending repetition? Pay attention to what you do, how you speak, the people around you and the consequences of your actions. A little loving concentration will show you the way out'.

Maybe it is true...Gue kan suka nggak peduli ya, asal gitu, mau ngomong ya nyablak aja gitu...maybe from now on I should 'Pay attention to what I do, how I speak, the people around me and the consequences of my actions'...Man, to pay attention to people around me wont be that hard, I like that actually...but pay attention to HOW I speak?  God, help me... :)

O iya, terus last wiken saya sempet ketemuan sama beberapa orang yang membuka mata saya...kalau saya masih harus banyak belajar...soal keyakinan saya, soal apa yang sebenernya saya mau dalam hidup, soal 'sayataudimanasayabelongsekarang', pokoknya banyak deh...maybe they dont even realize that...but thanks anyway !!! Really really appreciate it from the bottom of my heart :)  We MUST talk again someday !!!

September 09, 2005

happy weekend ;)

Just feels like I wanna write here...About job...I am sure, most of us must have it right?  Jobs to do, responsibilities to fulfil, wether we like it or not...Do you all like your job?  I am sure some don't...It is like a really luxurious thing that you can have a job that you love and at the same time pays you well too...Most of the time, it is the job is suck but the payment is great, or you love the job but the payment is suck, or the worst, you hate the job and the payment...

As for me?  Hmmmm...let's not talk about my job ;p 

I do believe that we can all learn something from our environment.  From the job we do (again, whether we like it or not... ;)), from the people around you.  Not just those 'white-collar' type of people, but I do believe that I can learn even more from 'street people'.  Orang-orang yang kadangan kita lupa, tapi malah justru dari mereka kita bisa dapat banyak pelajaran hidup.

Dan saya selalu senang mendengarkan cerita-cerita tentang mereka.  Ada satu yang selalu saya ingat kalau saya udah mulai BT dengan kerjaan saya (atau tepatnya seseorang dalam kerjaan saya ;p)...Dari sebuah forward email tentang seorang bapak tua penjual kue rangi (itu kue dari sagu, dikasih kelapa, terus dikasih gula merah kental...nyaaammmm...I love jajan pasar!).  Beliau sudah berpuluh-puluh tahun berjualan kue ini, dan hebatnya beliau menjajakannya berkeliling.  Ketika ditanya kenapa nggak mangkal aja, jadi nggak capek, beliau bilang beliau hanya berusaha mencari rezeki, yang kita nggak akan pernah tahu dimana Tuhan akan menurunkannya.  Saya pikir, bener juga...Rezeki nggak kayak pizza, yang kita bisa delivery, langsung bisa nyampe di depan pintu rumah kita, still hot from the oven.  Kitalah yang harus berusaha menjemput dan mencari rezeki itu. 

Ada satu hal lagi yang bapak itu bilang...tulus dari hatinya...Dia bilang, setiap langkah kita dalam mencari rezeki pasti ada yang menghitungnya.  Jika kita ikhlas dalam setiap langkah yang kadang (seperti) tidak menghasilkan apapun itu, maka ada dua kemungkinan.  Kalau Tuhan tidak memberikan kita rezeki yang kita inginkan di depan nanti, maka biarlah itu semua menjadi tabungan kita semua di akhirat nanti...

Itu cerita hiburan buat saya...Hiburan kalau saya udah mulai suntuk dengan sesuatu (atau tepatnya seseorang hehehe ;p) dalam kerjaan saya...Hiburan untuk saya tetap bertahan walaupun kadangan saya bingung sendiri...Do I have to?  Does it worth?  Tapi mungkin emang harus begini...Sometimes, you gotta catch up with the rain in order to see the rainbow, right? ;)  I just hope that there is no thunderstorm during the rain hehehe...

Enjoy your weekend now ;)

September 05, 2005

from mrs. buri...

Got an email from Mrs. Buri this morning...She is a really nice person, venezuelan lady, married to Mr. Buri, a Malaysian.  I used to work for her when I was in Den Haag, helped her ironing (funny story how I ended up ironing, ask me if you wanna know ;)).  She is really really nice, kind-hearted, even I remember she gave me 100 euros when I asked her permission for not working that week cause I am going to Austria and Budapest.  Sometimes I didnt work, just chatting with her and got paid for that...What a work !!! :) Thanks mam :)

Here is her email...I like it...enjoy :)

As we grow up, we learn that

   even the one person that wasn't supposed to ever let us down probably will...

  we will have our heart broken, probably more than once and it's harder every time.

   we will break other hearts too, so remember how it felt when ours were broken.

   we'll fight with our best friend.

   we'll cry because time is passing too fast, and we'll eventually lose someone we love.

   So take too many pictures, have too much laugh, and love like you've never been hurt

   because

   every sixty seconds you spend upset is a minute of happiness you'll never get back...